Senin, 25 Januari 2016

MENGULANG HARI KELAHIRAN IBU YANG KE 72 TAHUN

Rasa syukur yang tak terhingga kami panjatkan kepada Allah SWT atas semua kebahagian, keselamatan, kesehatan, kenikmatan dan keberkahan usia yang dilimpakan pada ibu. Diusianya yang genap 72 tahun, ibu masih dapat membaca Alquran tanpa bantuan kacamata. Masih bisa berjalan ke majelis taklim bahkan masih bisa naik angkutan umum. Subhanallah.

Berketepatan di hari yang sama dengan kelahirannya Minggu tanggal 24 Januari 2016, ibu menggelar acara arisan keluarga dan syukuran. Hampir semua anggota keluarga datang, hanya putra sulung beserta keluarga yang tidak hadir disebabkan berada di Bekasi.

Ibu, anak, menantu dan cucu. Anggota keluarga masih kurang 4 orang.


Meski putra sulung tidak ada tengah kebahagian ibu, dengan didampingi ketiga putranya ibu meminta momen ini untuk diabadikan.


Ibu dan putra-putranya (foto kurang 1 orang).

Gak afdol rasanya suapan tumpeng ke ibu tanpa menantu pertama kakak Wylvera Windayana. Apa mau dikata jarak yang terbentang jauh sekitar 1,955 km tidak memungkin berkunjung hanya sekejap saja. In Shaa Allah di masa yang akan datang kita dapat berkumpul kembali dengan menjalin keberamaan yang lebih indah.


Ibu dan para menantu


Setelah blackforest di potong ibu, kami para menantu bergilir menyuapai bolu ke ibu. Diawali dengan Kak Ika menantu nomor dua lanjut bergilir ke menantu nomor tiga dan nomor 4.

Bergilir ketiga menantu menyuapi ibu

Ibu dan para menantu (tanpa menantu pertama)

Masih dalam suasana lebaran 1436 H kebersamaan dengan keempat menantunya saat mau nobar film "Surga Yang Tidak Dirindukan" yang ditraktir menantu tertua Kakak Wylvera Windayana. Alhamdulillah indahnya berbagi, semoga hati kita tetap terhimpun kasih sayang dalam ikatan cinta pada-Nya.

Foto ibu dan keempat menantunya saat lebaran mau nobar ditraktir Mbak Wylvera Windayana

Cucu

Menantu, adik, keponakan dan cucu


Ibu dan adiknya yang nomor 10 dan 12
Terharu melihat ibu yang sedang dicium kedua adiknya memberikan ucapan selamat. Meski usia mereka sudah menua tapi kasih sayang mereka tidak ditelan senja. Semoga terus terjaga.





Yang tak kalah penting di hari istimewa itu adalah tausiah ustadz tentang makna ikhlas. Nah, sungguh berat ikhlas itu, maaf kata (tiru cakap ustadz) kalau mau ikhlas itu seperti kita buang air besar ke toilet. Kita tidak memikirkan lagi atau sayang apa yang kita buang di toilet tadi meski kita tadi makan pizza, makan daging, makan jengkol atau lainnya. Tidak pernah kita berfikir sayang untuk buang airnya. Sama halnya kita memberi, jika ada di kantong kita uang 2 rb, 5 rb, 10 rb, 50 rb dan 100 rb mana yang akan kita sedekahkan ? Bukan berarti sedikit yang penting ikhlas. Tapi ketika kita memberi dengan masih banyak pertimbangan mana yang akan disumbangkan uang 2 rb atau 50 rb itu belum ikhlas. Katanya pak ustadz ya ....




Mulai dari tumpeng, blackforest, kue-kue tradisional, hingga coklat turut memeriahkan suasana syukuran ibu yang ke 72 tahun.



Semoga ibu senantiasa dalam kasih sayang Allah hingga akhir usia .....

1 komentar: